Inventarisasi Flora di Blok Rehabilitasi Suaka Margasatwa Paliyan

Pendahuluan

Suakamargasatwa (SM) Paliyan berada di Kecamatan Paliyan dan Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan SM Paliyan ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 171/Kpts-II/2000. Sebelum ditunjuk, SM Paliyan merupakan kawasan hutan produksi yang termasuk dalam lingkup BDH Paliyan dengan jenis tanaman jati. Sejarah SM Paliyan yang berupa hutan produksi mengakibatkan kawasan didominasi oleh jenis tanaman kayu seperti jati (Tectona grandis) dan sonokeling (Dalbergia latifolia). Namun, tutupan kayu-kayuan hanya 3,25% dari total kawasan dan sekitar 80% dari kawasan SM Paliyan telah digunakan untuk perladangan masyarakat. Meskipun demikian, kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) dengan jenis tanaman kayu-kayuan telah dilakukan pada tahun 2003 dan 2004. Selain itu, kegiatan rehabilitasi dari hibah PT. Mitsui Sumitomo Insurance dilakukan pada rentang tahun 2005-2011 dengan jenis tanaman buah-buahan (BKSDA Yogyakarta, 2012).blog

SM Paliyan terdiri dari tiga blok pengelolaan yaitu Blok Lindung, Blok Khusus, dan Blok Rehabilitasi. Blok Lindung seluas 53,87 ha merupakan kawasan perlindungan yang ditetapkan karena potensi flora dan faunanya yang lebih tinggi, Blok Khusus seluas 7,21 ha merupakan area latihan Angkatan Udara TNI, dan Blok Rehabilitasi seluas 373,50 ha merupakan area yang diprioritaskan untuk kegiatan penghijauan SM Paliyan.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan “Inventarisasi Flora di Blok Rehabilitasi Suaka Margasatwa Paliyan”. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui potensi flora dan memetakan distribusi keanekaragaman jenis di Blok Rehabilitasi. Kawasan rehabilitasi dipilih karena diprioritaskan untuk kegiatan restorasi ekosistem Paliyan. Oleh karena itu, pemetaan potensi flora sangat diperlukan sebagai baseline perencanaan. Kegiatan ini diselenggarakan pada bulan Oktober-November 2017.

Metode

Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan kegiatan terdiri dari:

  1. Klasifikasi penutupan lahan SM Paliyan dari citra satelit SPOT 6 resolusi 1,5 m. Klasifikasi dilakukan dengan digitasi on screen dan ISO-Cluster Unsupervised Classification di ArcMap 10.x.citraklasifikasi
  2.  Inventarisasi flora dilakukan dengan sistem sampling Systematic Sampling with Random Start.Intensitas Sampling adalah 1% dan bentuk plot sampel adalah Nested Sampling.Samplesample
  3. Perhitungan keanekaragaman jenis flora. Keanekaraman jenis flora dihitung dengan metode indeks Shannon-Wiener (Lin & Trianingsih, 2016)a. Indeks keanekaragaman jenis (H’) Shannon-Wiener :shannonKeterangan:
    • H’ = nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener
    • s = jumlah spesies
    • N = jumlah total individu
    • n = jumlah individu setiap spesies i dalam plot sampel
    • pi = proporsi setiap spesies i
    • ln = natural log

    Indikator indeks Shannon-Wiener adalah:

    • H’ < 1,5            = tingkat keanekaragaman rendah
    • 1,5 ≤ H’ ≥ 3,5 = tingkat keanekaragaman sedang
    • H’ > 3,5            = tingkat keanekaragaman tinggi

    Selanjutnya, hasil analisis dipetakan dengan interpolasi spasial IDW (Inverse Distance Weigthing) untuk mengetahui distribusi tingkat keanekaragaman flora di setiap kelas semai, pancang, tiang, dan pohon.

    Komposisi flora dengan Indeks Nilai Penting (INP)

    b. INP digunakan untuk mengetahui komposisi jenis flora dan persentase masing-masing jenis tersebut (Ismaini et al, 2015).

    INP semai dan pancang = KR + FR

    INP tiang dan pohon = KR + FR + DR

    KR =

KR

FR =

FR

 

 

 

DR =

DR

Hasil dan Pembahasan

Hasil analisis keanekaragaman flora ditunjukkan pada peta-peta di bawah ini:hasil1

Peta keanekaragaman jenis semai di SM Paliyan. Keterangan: a) ditambahkan informasi jumlah semai di setiap plot sampel, b) ditambahkan informasi jumlah jenis semai di setiap plot sampel.

hasil2

Peta keanekaragaman jenis pancang di SM Paliyan. Keterangan: a) ditambahkan informasi jumlah pancang di setiap plot sampel, b) ditambahkan informasi jumlah jenis pancang di setiap plot sampel.hasil3

Peta keanekaragaman jenis tiang di SM Paliyan. Keterangan: a) ditambahkan informasi jumlah tiang di setiap plot sampel, b) ditambahkan informasi jumlah jenis tiang di setiap plot sampel.

Peta keanekaragaman jenis pohon di SM Paliyan. Keterangan: a) ditambahkan informasi jumlah pohon di setiap plot sampel, b) ditambahkan informasi jumlah jenis pohon di setiap plot sampel.

Peta di atas menunjukkan hasil perhitungan indeks Shannon-Wiener untuk kelas semai hingga pohon. Berdasarkan indikator indeks Shannon-Wiener, tingkat keanekaragaman jenis flora (semai, pancang, tiang, dan pohon) masih termasuk kategori rendah karena berada pada rentang 0-1,5. Hal itu sesuai dengan jumlah jenis yang ditemukan yaitu hanya 1 – 6 jenis di setiap plot.

Temuan pada kegiatan ini adalah keanekaragaman jenis pada permudaan (semai dan pancang) di Blok Lindung lebih rendah dibandingkan Blok Rehabilitasi, sedangkan keanekaragaman jenis yang termasuk tinggi untuk kelas tiang dan pohon tersebar di Blok Lindung dan Rehabilitasi. Selanjutnya, dua peta terakhir menunjukkan keanekaragaman pohon yang lebih tinggi pada Blok Rehabilitasi di Bagian Utara kawasan SM Paliyan. Hal itu menunjukkan kegiatan rehabilitasi yang dilakukan sebelumnya telah berhasil meningkatkan keanekaragaman jenis pohon di Blok Rehabilitasi.

Selanjutnya, hasil analisis komposisi flora yang terdiri dari kelas semai, pancang, tiang, dan pohon ditunjukkan pada grafik-grafik di bawah ini:

Persentase INP Semai di Blok Rehabilitasi

Persentase INP Pancang di Blok Rehabilitasi

Persentase INP Tiang di Blok Rehabilitasi

Persentase INP Pohon di Blok Rehabilitasi

Kegiatan ini menemukan bahwa komposisi jenis tertinggi pada kelas semai adalah Sonokembang dengan INP 20,69%, kemudian komposisi jenis tertinggi pada kelas pancang adalah Gamal dengan INP 23,78%, lalu komposisi jenis tertinggi pada kelas tiang adalah Jati dengan INP 51,92% dan komposisi jenis tertinggi pada kelas pohon adalah Jati dengan INP 55,07%. Persentase tertinggi pada kelas tiang dan pohon menunjukkan bahwa komposisi jenis flora di SM Paliyan masih didominasi jenis-jenis pada hutan produksi yaitu jati (Tectona grandis). Sebagai kawasan suakamargasatwa, jenis-jenis yang diharapkan dapat dilestarikan adalah jenis-jenis asli yang pernah tumbuh di masa lampau. Beberapa jenis yang pernah tumbuh di pegunungan karst Gunung Kidul (Faida et al, 2011) adalah:

  1. Tipe lower montane rain-forest yaitu Chenopodium, Pinus sp., dan Altingia excelsa pada 16.894 ± 440 – 9.296 ± 140 tahun BP.
  2. Tipe Hutan Hujan Tropika yaitu Durio sp, Dipterocarpus, dan Celtis sp. pada 9.296 ± 140 – 1.046 ± 75 tahun BP.
  3. Tipe Monsun yaitu Anacardium, Grewia sp., dan Podocarpus sp. pada .046 ± 75 tahun BP – Modern.

Dengan demikian kegiatan penghijauan di Blok Rehabilitasi yang akan datang ditujukan untuk menggunakan jenis-jenis asli yang pernah tumbuh di daerah tersebut. Meskipun demikian, kondisi solum yang tipis, berbukit, dan tekanan masyarakat yang tinggi menjadi tantangan untuk keberhasilan tanaman.

Kesimpulan

Kesimpulan dari kegiatan ini yaitu:

  1. Tingkat keanekaragaman jenis flora di SM Paliyan masih tergolong rendah.
  2. Komposisi jenis flora yang ada di SM Paliyan masih didominasi dengan tanaman kayu seperti hutan produksi.
  3. Kegiatan penanaman di Blok Rehabilitasi perlu memperhatikan komposisi jenis yang beragam dan disesuaikan dengan jenis-jenis asli yang pernah tumbuh di daerah pegunungan karst Gunung Kidul.

Referensi

BKSDA Yogyakarta. 2012. SM Paliyan. Balai Konservasi Sumberdaya Alam Yogyakarta. Diakses dari http://bksdadiy.dephut.go.id/halaman/2017/22/SM_Paliyan.html, pada 05 Desember 2017, pukul 10.00 WIB.

Faida LRW, Sutikno, Fandeli, dan Sunarto. 2011. Rekonstruksi hutan purba di kawasan karst Gunungsewu dalam periode sejarah manusia. Jurnal Ilmu Kehutanan V (2): 79-90.

Ismaini L, Lailati M, Rustandi, Sunandar D. 2015. Analisis komposisi dan keanekaragaman tumbuhan di Gunung Dempo, Sumatera Selatan. Proseding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia 1 (6): 397-1402.

Lin C & Trianingsih D. 2016. Identifying forest ecosystem regions for agricultural use and conservation. Scientia Agricola 73 (1): 62-70.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *